[Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Nurhayati Ali Assegaf saat hadir pertemuan ke-4 Parlemen MIKTA pada sesi ke-2.Foto :Jaka/Rni]

 

 

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Nurhayati Ali Assegaf menilai peranan perempuan perlu menjadi perhatian bersama. Perempuan dan anak-anak rentan menjadi sasaran dan target kekerasan. Namun, bukan berarti perempuan tidak bisa menjadi agen perdamaian dan resolusi konflik.

 

Demikian dikatakan Nurhayati di sela-sela pertemuan ke-4 Parlemen MIKTA pada sesi ke-2 dengan tema peranan perempuan dalam perdamaian dunia yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan Tampaksiring, Bali, Minggu (16/9/2018).

 

“Perempuan tidak hanya sekedar victims dari suatu konflik tetapi juga bisa menjadi agen perdamaian melalui pemberdayaan ekonomi dan pendidikan,” papar Nurhayati.

 

Ditegaskan, perempuan  mempunyai peranan krusial sebab mampu membawa berbagai perubahan nyata, melalui peran aktif perempuan dalam dialog dan proses pengambilan keputuan di berbagai tatanan. Mulai dari keluarga hingga komunitas. Apalagi, populasi perempuan di dunia hampir separuh dari penduduk dunia.

 

“Kalau perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki, tidak termarjinalkan dan bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki maka perempuan bisa menjadi agen dari perdamaian dunia,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, ada korelasi yang kuat antar perananan perempuan dan perang maupun konflik. Di satu sisi, perempuan bisa menjadi pelaku atau berpengaruh dalam membentuk perilaku pola pikir suami.

 

Karena itu, dirinya mendorong negara MIKTA untuk terus meningkatkan partisipasi perempuan dan kesetaraan gender melalui kebijakan yang responsif terhadap isu gender, sebagaimana merujuk pada goals SDGs Leaving No One Behind.

 

Kemudian, membuat diskusi kesetaraan gender yang juga melibatkan kaum laki-laki agar dapat berkontribusi lebih dalam melindungi hak-hak kaum perempuan yang setara, mencegah segala bentuk diskriminasi, dan meningkatkan partisipai perempuan dalam pengambilan keputusan.

 

Indonesia sendiri, lanjutnya, terus berupaya melindungi terus berupaya melindungi dan memajukan hak-hak dan akses perempuan yang setara dan mencegah segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

 

Terbukti, Indonesia terbesar di Asia bahkan ke 12 di dunia dalam menjalankan operasi perdamaian dunia. Hal ini sejalan dengan komitmen MIKTA  untuk meningkatkan kesetaraan dalam pengambilan keputusan, kepemimpinan dan pembangunan perdamaian.

 

Untuk diketahui, MIKTA adalah forum kemitraan antara Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia. MIKTA dibentuk pada tahun 2013 dengan tujuan untuk mendukung pemerintah global yang efektif. (tim)