Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Nurhayati Ali Assegaf menyerukan Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)  tidak akan tercapai tanpa memperhatikan hak asasi manusia rakyat Palestina dan Rohingya. Menurutnya, pencapaian SDGs harus mutlak inklusif, termasuk terselesainya masalah kemanusiaan masyarakat Palestina dan komunitas Rohingya.

 

Demikian disampaikannya dalam sesi national statement Konferensi Tingkat Tinggi Women Political Leaders (WPL) 2019 di Tokyo, Jepang dengan tema “Taking Actions to Advance Society through SDGs”, baru-baru ini. Turut hadir sebagai Delegasi Indonesia Anggota BKSAP Dwi Aroem Hadiatie (F-PG), dan Siti Masrifah (F-PKB).

 

Nurhayati menuturkan, Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB akan terus konsisten memperjuangkan hak–hak mereka sebagaimana mandat konstitusi. Ia juga menyampaikan pentingnya kepemimpinan perempuan yang berkontribusi pada peningkatan perdamaian yang inklusif serta kemajuan Indonesia dalam pemberdayaan perempuan.

 

Di sela KTT tersebut, sebagai wujud komitmen dan kerja keras dalam isu pemberdayaan perempuan, Nurhayati  dipercaya kembali sebagai Anggota Dewan Eksekutif  Women Political Leaders (WPL) hingga tahun 2021. Pada sesi diskusi kebijakan mengenai Data Beyond Borders, Anggota BKSAP Dwi Aroem Hadiatie menyampaikan bahwa perlindungan hak privasi dan keamanan nasional itu sangat penting di era digital saat ini.

 

Merespon ide PM Shinzo Abe mengenai  freedom and trust cross data flow atau konsensus data global, Dwi Aroem mengatakan perlunya menjawab gap teknologi antara negara maju dan berkembang serta membangun standard internasional yang juga harus mengakomodasi kepentingan negara berkembang.

 

KTT WPL 2019 Tokyo ditutup oleh Kepala Dewan Eksekutif WPL Hanna Kritsjandottir. Dalam penutupan tersebut, Hanna menekankan untuk meningkatkan ritme advokasi dalam peningkatkan partisipasi perempuan di segala aspek. Jika dengan ritme sekarang, Goal 5 – kesetaraan gender akan tercapai 207 tahun lagi. (ann/sf)